Menakar Ancaman Kepunahan dan Misteri Rafflesia (Bagian 3)

Rafflesia menjadi misteri bagi ilmu pengetahuan, tidak satupun orang bahkan ilmuwan di dunia ini yang dapat memastikan kapan dan di mana Raf...


Rafflesia menjadi misteri bagi ilmu pengetahuan, tidak satupun orang bahkan ilmuwan di dunia ini yang dapat memastikan kapan dan di mana Rafflesia akan tumbuh. Susatya mengatakan hingga saat ini belum ada teori yang dapat menjelaskan bagaimana Rafflesia memperbanyak diri.

“Teori yang kita ketahui belum jelas, belum bisa menjelaskan. Ada teori yang menduga bahwa Rafflesia memperbanyak diri dengan penyerbukan. Tapi teori ini memilki kelemahan,” kata Agus Susatya, peneliti Rafflesia yang menyelesaikan studi lanjutnya di Department of Botany and Plant pathology, Michigan State University, East Lansing, Amerika Serikat dan Natural Resources Studies, Faculty of Sience and Technology, Universiti Kebangsaan Malaysia.

Susatya menjelaskan, Rafflesia adalah tumbuhan berumah dua, artinya bunga jantan dan betinanya berada pada dua individu yang berbeda, sehingga mungkin memang perlu penyerbukan. “Tapi selama ini yang berbunga adalah bunga jantan, adanya dua bunga mekar bersamaan itu sangat jarang,” jelasnya.

Teori lain, menyebutkan penyerbukan Rafflesia dibantu oleh hewan lain seperti babi atau lalat. “Tapi lagi-lagi masalahnya adalah sebagian besar yang ditemukan itu adalah bunga jantan, bagaimana terjadi penyerbukan jika tidak ada jantan dan betina pada waktu bersamaan?,” lanjutnya. Hal yang sama sekali berbeda pengetahuan umum tumbuhan, kata Susatya. 

“Kalau di dunia tumbuhan sudah banyak kan yang kita tahu, itu jelas semua bagaimana tumbuhan itu memperbanyak diri. Kalau Rafflesia tidak jelas, termasuk dugaan biji Rafflesia disebarkan oleh babi yang menginjaknya dan kemudian menginjak inangnya, ini juga tidak ada bukti ilmiahnya.”

Dengan semua misteri yang belum terpecahkan, Rafflesia tengah menghadapi ancaman kepunahan, khususnya beberapa jenis tertentu sudah tidak terelakan lagi. Bahkan sudah ada jenis Rafflesia yang saat ini sudah dianggap punah, karena tidak pernah lagi ditemukan mekar, yaitu Raffesia atjehensis, sebagai contoh, dianggap sudah mengalami kepunahan karena sejak lama tidak dapat dijumpai.

Kemudian, Rafflesia rochussenii sedang dalam proses kepunahan, mengingat populasinya makin hari makin sedikit dijumpai. Hal yang sama juga dialami jenis Rafflesia bengkuluensis, di mana kebanyakan habitatnya dikonversi menjadi lahan perkebunan atau dirambah. Perambahan hutan menjadi penyebab lainnya menyusutnya habitat utama Rafflesia.

Status konservasi jenis-jenis Rafflesia di Indonesia*


*Keterangan
IUCN 1997 merupakan informasi yang terdapat di IUCN Red List of Threatened Plants.
Dua kolom lainnya merupakan penilaian oleh Jamili Nais (2001).
WCMC: V (Vulnerable), E (Endangered), R (Rare), dan I (Indeterminate)
Kriteria baru IUCN: VU (Vulnerable), EN (Endangered), LR (Low Risk), CR (Critically Endangered)

Pengelompokan status konservasi tersebut berdasarkan kriteria oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), WCMC (World Conservation Monitoring Center) dan penilaian Jamili Nais, anggota panelis warisan dunia.

Dari status konservasi itu, Rafflesia arnoldii merupakan satu-satunya jenis yang boleh digolongkan rentan terhadap kepunahan (vulnerable, V atau VU). Artinya masih dianggap merupakan jenis yang mempunyai sebaran yang paling banyak dan habitat yang masih luas. Namun demikian, Susatya menilai, jika  melihat kondisi saat ini, Rafflesia bisa dikategorikan Critical Endanger, mengingat status konservasi tersebut sudah cukup lama.

Susatya menjelaskan, kriteria untuk mengkategorikan ancaman punah tumbuhan langka, setidaknya bisa dilihat dari 3 faktor, yaitu sebaran, individu per populasi, fragmentasi atau kerusakan hutan.  Kondisi diperparah lagi dengan adanya predator atau pemangsa, ruang hutan yang semakin sempit dan pengrusakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Sekarang kita sudah bisa lihat kondisinya, sebaran Rafflesia arnoldii makin sempit, jumlah individu per populasinya bahkan tidak lebih dari 10 setiap mekar, bahkan kurang, itupun kalau tidak dirusak. Kemudian laju kerusakan hutan tidak terkendali lagi,” katanya.

Tidak Bisa Dibudidayakan

Misteri utama Rafflesia adalah tidak diketahui dengan pasti reproduksinya atau bagaimana tumbuhan ini memperbanyak diri. Dari teori-teori yang ada, tidak satupun yang bisa memberikan bukti yang jelas mengenai reproduksi Rafflesia.

Menurut Susatya, satu-satunya yang bisa dijelaskan adalah, sebaran Rafflesia mengikuti sebaran inangnya dan itu berarti habitat inangnya adalah habitat Rafflesia. Rafflesia memiliki haustorium -jaringan yang mirip akar- berfungsi untuk  menghisap sari makanan dari inangnya. 

Inang dari Rafflesia adalah tumbuhan liana dari marga Tetrastigma yang termasuk ke dalam famili Vitaceae. Di sinilah masalah utamanya, misteriusnya perbanyakan diri Rafflesia itu sendiri, menjadi ancaman bagi keberadaannya. 

Meski di dunia ini setidaknya ada 97 jenis Tetrastigma di daerah tropis maupun subtropis, tapi ternyata sebarannya tidak selalu diikuti Rafflesia. Di Asia tenggara sendiri, dijumpai 57 jenis Tetrastigma, tapi tidak lebih dari 10 Tetrastigma yang menjadi inang Rafflesia. 

Jenis Rafflesia dan inangnya.

Sumber Banziger,1991; Halina,2004; Hidayati ,2000; Latiff & Mat-Salleh,1991; Meijer,1997; Meijer & Elliott,1990; Nais,2001; Susatya dkk.,2005; Susatya,2007;Wong & Latiff,1994; Zuhud dkk.1998


Misteri Rafflesia tidak hanya sampai di situ, jika tumbuhan lainnya memiliki siklus hidup yang bisa dijelaskan secara keseluruhan, tapi tidak dengan Rafflesia. 

Mengutip pendapat Jamili Nais, ahli botani yang juga panelis warisan dunia, minimnya informasi siklus hidup Rafflesia disebabkan karena panjangnya siklus hidup, kecilnya populasi, tingginya mortalitas, dan ketidak pastian sebuah kuncup untuk menjadi bunga.Tidak hanya misteri bagaimana Rafflesia berkembang biak dan kemungkinannya dibudidayakan, tapi interaksinya dengan Tetrastigma pun menjadi sangat misterius. 

Bagaimana dari 97 jenis Tetrastigma di dunia dan 57 jenis di Asia tenggara, hanya 10 Tetrastigma yang dijadikan inang. Keberadaan inangnya sendiri juga masih tergantung dengan kondisi hutan, dan jika sudah tersedia Tetrastigma tersebut, tidak juga ada satupun orang yang menjamin Rafflesia akan tumbuh di sana.

Ancaman Deforestasi

Liana -Inang Rafflesia- adalah tumbuhan berkayu yang merambat, dan memerlukan inang struktural dari tumbuhan lainnya sebagai tumpuan untuk merambat. Saling ketergantungan itu membentuk asosiasi atau interaksi antara tumbuhan dalam komunitas tertentu.


Skema sederhana hubungan interaksi antar tumbuhan di komunitas yang terdapat
jenis Raffflesia. Ilustrasi: dok. Agus Susatya.

Menjadi sangat kompleks, ketika menyebut habitat Rafflesia, maka itu berarti tidak lepas dari habitat liana. 

Meski mudah dibiakan, tapi untuk bisa melimpah, liana butuh kanopi hutan atau percabangan pohon dan dedaunannya. Secara umum keberadaan pohon yang rendah mempermudah liana untuk mencapai kanopi hutan, dan meningkatkan kelimpahan liana, yang juga disebut sebagai parasit struktural. 

Kajian asosiasi antara jenis Rafflesia dengan inangnya jarang dilakukan karena kesulitan mengumpulkan spesimen herbarium dari Tetrasigma. Daun, buah, dan bunga dari Tetrastigma biasanya ditemukan jauh di atas kanopi pohon. Oleh karena itu, dalam riset tentang Rafflesia tidak selalu mengkaji atau mengumpulkan herbarium spesimen dari inang.

Habitat yang sangat cocok untuk Rafflesia dan inangnya adalah tepi sungai. Hal ini disebabkan sungai merupakan bentang alam yang dinamik dan dianggap sebagai sumber gangguan alami (natural disturbance), mempunyai kelembaban udara yang tinggi, dan kualitas iklim. 

Seperti diketahui, Sumatera dengan rangkaian Pegunungan Bukit Barisan merupakan salah satu kawasan yang penting bagi 10 dari 12 jenis Rafflesia di Indonesia. Kawasan Pegunungan Bukit Barisan tidak semuanya dikelola ke dalam sistim taman nasional, beberapa diantaranya dimasukkan ke dalam hutan lindung. 

Oleh sebab itu, tidak semua populasi Rafflesia di kawasan ini di bawah pengelolaan Balai Taman Nasional. Rafflesia arnoldii, Rafflesia micropylora, Rafflesia rochusenii, dan Rafflesia atjehensis terdapat di Taman Nasional Gunung Leuser. 

Kemudian Rafflesia hasseltii, Rafflesia arnoldii, dan Rafflesia gadutensis dijumpai di Taman Nasional Kerinci Seblat.  Sedangkan Rafflesia arnoldii, Rafflesia gadutensis dan Rafflesia bengkuluensis dapat dijumpai di hutan lindung yang  berada di kawasan Pegunungan Bukit Barisan.

Di sini masalahnya, kawasan hutan lindung selama ini kerap dirambah oleh peladang. Susatya mencatat, pembukaan kawasan hutan biasanya dimulai dengan penebangan pohon dan dilanjutkan dengan pembakaran bekas tebangan. Lahan yang telah dibakar kadang-kadang ditanami padi darat atau jagung lebih dahulu, sebelum ditanami tanaman komoditi tertentu. Jenis tanaman ini tergantung dengan komoditi tradisionil yang ditanam penduduk setempat. 

“Di daerah Bengkulu, peladang biasanya menanami dengan kopi, sedangkan di Kerinci mereka mengusahakan kayu manis, sedangkan di Kabupaten Musi Rawas, mereka biasanya menanam karet. Perladangan liar hampir pasti menghilangkan semua populasi Rafflesia di suatu lokasi,” kata Susatya.

Susatya pernah punya pengalaman terkait Rafflesia yang menjadi korban dari perladangan adalah satu lokasi di kawasan Air Manjo, Ketenong, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, sekitar 5 jam dari Kota Bengkulu. 

Di dalam satu lokasi di kawasan ini dijumpai populasi Rafflesia arnoldii dan Rizanthes deceptor yang sangat berdekatan, sehingga timbul dugaan kedua jenis ini mempunyai inang yang sama. Sayangnya pada tahun berikutnya, lokasi ini musnah karena perladangan liar.

Di Bengkulu, berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 420/Kpts-II/99), luas kawasan hutan Provinsi Bengkulu adalah 920.964,000 ha, sedangkan pada tahun 2011, total luas areal hutan di Provinsi Bengkulu adalah 920.320,5 hektar yang terdiri atas, hutan lindung 251.269,7 hektar, suaka alam 443.964,80 hektar, hutan produksi terbatas 182.210 hektar, hutan produksi tetap 36.011 hektar, dan hutan fungsi khusus 6.865 hektar. 

Sementara, berdasarkan data dari Kantor Pelayanan dan Perizinan Terpadu (KP2T) Provinsi Bengkulu, seluas 700.000 ha dari luas keseluruhan hutan di provinsi Bengkulu dewasa ini dalam kondisi kritis.

Tidak bisa dipungkiri lagi, jika kawasan hutan yang menjadi tempat bagi Tetrastigma tumbuh, berlindung dan melimpah dengan rimbunnya kanopi hutan, kemudian rusak. Hampir dapat dipastikan Rafflesia akan semakin sulit untuk ditemui.

Minimnya Penelitian

Masalah konservasi Rafflesia yang sebenarnya dan seharusnya bisa menjadi titik balik konservasi Rafflesia adalah minimnya penelitian. Menurut Susatya, pada masa Kolonial Belanda penelitian tentang jenis Rafflesia sangat intensif dan mencapai puncaknya, baik dalam penemuan jenis-jenis baru maupun percobaan konservasi ex-situ atau pelestarian di luar habitat aslinya. Setelah masa itu, penelitian tentang Rafflesia mengalami kemunduran.

Pada tahun 2010, Lazarus Agus Sukamto dan Mujiono dari pusat penelitian Biologi-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pernah mencoba melakukan penelitian in vitro atau kultur jaringan Rafflesia di laboratorium. Meski dilaporkan pada penelitian itu kalus atau jaringan Rafflesia bisa hidup pada media biakan, tapi tetap saja tidak berhasil menumbuhkan embrio atau individu baru Rafflesia.

Penelitian terbaru yang dilaporkan di Indonesia, pada tahun 2012, peneliti dari Universitas Bengkulu, Marlin Herlambang kembali mencoba melakukan penelitian kultur jaringan Rafflesia. Tapi tetap saja belum membuahkan hasil, Rafflesia tetap belum bisa ditumbuhkan. Bunga yang hidup dengan menempel pada liana itu, hingga saat ini masih terselubung misteri.

“Tidak banyak Penelitian begitu (Pembiakan Rafflesia - red), karena tidak menjadi penelitian yang seksi dari segi pendanaan. Kemungkinan karena dianggap tidak ada manfaat langsung ke kehidupan, bukan ilmu terapan, tapi murni ilmu. Walau mungkin setelah terungkap nanti, bisa saja ada manfaatnya,” kata Susatya.

Selain sedikitnya dukungan terhadap penelitian reproduksi Rafflesia, persoalan lainnya adalah panjangnya siklus hidup Rafflesia. Susatya menjelaskan, dari sejak Rafflesia menempel di liana –Terlihat seperti bintik- hingga memecah kulit liana dan mencapai ukuran sebesar kelereng saja butuh waktu 2 tahun. Kemudian untuk bisa mekar sempurna, paling tidak butuh waktu 2,5 tahun lagi. Waktu keseluruhannya bisa mencapai 4,5 tahun, dan hanya akan mekar sempurna hanya 8 hari saja. 

“Di kalangan peneliti malah ada ungkapan, makin banyak seorang peneliti mengamati Rafflesia, berarti peneliti itu makin gila,” kata Susatya sembari tertawa.

Sementara, lanjutnya, di dunia internasional, meski ada penelitian tentang Rafflesia, tapi penelitiannya lebih difokuskan pada DNA. “Sebenarnya banyak penelitian di dunia internasional, tapi mereka concern (Perhatian) ke DNA, keunggulan teknologi mereka di sana, tapi tidak untuk perkembangbiakannya. Yang dilihat mengenai genetik,” lanjutnya.

Predator Bagi Rafflesia 

Ancaman kepunahan tidak hanya karena keberadaan Rafflesia masih misteri. Setelah diketahui keberadaannya, Rafflesia menghadapi ancaman baru, yakni predator. Predasi menjadi salah satu ancaman utama keberadaan Rafflesia di setiap siklus hidupnya.

Jamili Nais, setelah melakukan penelitian panjang, menbagi siklus hidup Rafflesia menjadi 3 fase perkembangan knop atau kuncup bunga, yaitu pasca kemunculan knop (post emergence), perkembangan tengah (middle development), dan sebelum mekar. 

Siklus hidup secara lengkap sebetulnya terdiri dari 7 fase yang berurutan dan meliputi proses penyerbukan, pembentukan buah dan biji, penyebaran biji, inokulasi biji ke inang, kemunculan kuncup bunga, kuncup yang matang, dan bunga mekar.

Susatya sendiri membagi siklus hidupnya berdasarkan pengamatan visual, ia membaginya 6 bagian utama yaitu; fase kopula, kopula-brakta, brakta, brakta-perigon, perigon, dan mekar. Fase kopula ditandai dengan kenampakkan kuncup yang seluruhnya berupa kopula. 

Fase brakta ditandai dengan kenampakkan kuncup yang hampir seluruhnya berupa brakta. Sedangkan fase perigone dicirikan dengan kuncup yang hampir seluruhnya tertutup perigone. Fase kopula-brakta atau brakta-perigon masing-masing merupakan fase saat dimana dua struktur bunga tersebut terlihat dominan.


Siklus Hidup Rafflesia (Dari kiri ke kanan: fase kopula, fase brakta-perigon, fase perigon dan mekar) Foto: dok Agus Susatya

Proses dari bentuk kopula yang terlihat sebesar kelereng hingga mekar sempurna, setidaknya butuh waktu hingga 3 tahun. Waktu yang panjang untuk menanti mekarnya bunga yang hanya akan mekar secara sempurnya selama 7 atau 8 hari saja. 

Bayangkan bagaimana rasanya, jika beberapa bulan setelah muncul kopula Rafflesia yang hanya seperti bintik, lantas bintik itu terinjak oleh hewan liar atau ada yang tidak sengaja menginjaknya. 

Mekarnya Rafflesia kemudian hanya akan jadi angan. Nais menyebutkan setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan kematian kuncup yaitu; keterbatasan hara dan hasil fotosintesis, kerusakan karena serangga, dan pemakanan (predation) kuncup oleh hewan.

Kematian pada kuncup berukuran kecil (kopula) biasanya terjadi karena dua faktor pertama di atas. Predasi jarang terjadi pada kuncup dalam fase kopula, karena pada fase ini jaringan asli kuncup Rafflesia terlindungi oleh kulit dari inang yang keras. Dua jenis mamalia yang dikenal memakan bunga yakni Tupai dan Landak. Injakan kaki dari babi hutan, kucing hutan, rusa, muncak, dan banteng bisa merusak.

Di Bengkulu, Susatya menilai tingkat kematian individu kuncup Rafflesia, dari semua jenis yang ada 64 persennya mempunyai mortalitas atau kemungkinan mati yang sangat tinggi yakni 80 hingga 100 persen. Bahkan untuk jenis Rafflesia bengkuluensis di salah satu lokasi di Talang Tais mortalitas dapat mencapai 100 persen dalam waktu kurang dari 2 bulan.

Rafflesia dengan semua misterinya saja menjadikannya sebagai flora yang keberadaanya menjadi sulit, ditambah lagi banyaknya ancaman terhadap habitatnya, kehidupan Rafflesia menjadi lebih rentan.

Pengrusakan Oleh Manusia

Menurut Susatya, pembalakan liar mempunyai dua efek. Selain pastinya akan mengakibatkan hilangnya inang struktural dari liana dan pohon yang ditebang akan merusak inang dan kuncup Rafflesia. Efek kedua adalah adanya tangan jahil yang pemotong inang atau merusak kuncup. Biasanya jika suatu lokasi di taman nasional atau hutan lindung telah diketahui ada populasi Rafflesia, maka lokasi tersebut tidak lagi menjadi target pembalakan liar. 

“Memang, pembalakan liar tidak lagi terjadi di lokasi tersebut, karena lokasi tersebut menjadi tujuan pengunjung atau pengawasan dari instansi pemerintah, khususnya kehutanan. Tapi, pembalak liar akan mencari kesempatan untuk merusak dan mematikan koloni Rafaflesia dengan harapan lokasi tersebut tidak lagi menjadi target pengawasan pengelola kawasan karena tidak ada lagi Rafflesia,” kata Susatya.

Di sisi lain, meski populasi atau subpopulasi Rafflesia dapat juga dijumpai di luar kawasan hutan atau lahan penduduk selain di dalam kawasan hutan seperti di kawasan hutan lindung, cagar alam, dan taman nasional. 

Tapi keberadaan Rafflesia tetap tidak luput dari ancaman pengrusakan. Motifnya biasanya, menurut Susatya, lantaran pemilik lahan tidak ingin lahannya kemudian didatangi orang karena bisa mengganggu aktivitasnya berkebun.

Habitat Rafflesia di lahan penduduk mempunyai ciri yang khas. Biasanya habitatnya tidak luas (kurang dari 0,1 hektar), di bagian lahan penduduk yang tidak tergarap, dan terletak pinggir sungai atau lereng yang terjal. Vegetasi biasanya didominasi tumbuhan pionir dan membentuk komunitas hutan sekunder muda. 

Dua kasus tersebut di Bengkulu telah banyak dijumpai di Bengkulu. Adalah Komunitas Pecinta Puspa Langka (KPPL) yang banyak mencatat terjadinya pengrusakan Rafflesia secara sengaja, baik pengrusakan Rafflesia yang telah mekar atau bahkan pengrusakan bongkol Rafflesia.


Pengrusakan habitat, inang dan bongkol Rafflesia oleh orang tak bertanggung jawab sering terjadi. Foto: dok KPPL Bengkulu Utara

Menurut Sofian, koordinator KPPL, didekat habitat Rafflesia biasanya ada kelompok masyarakat yang sepertinya mengabaikan norma konservasi, tetapi malah mencari keuntungan dari keberadaan Rafflesia dengan membuka pameran ketika ada Rafflesia yang sedang mekar dan mendapatkan keuntungan dari pengunjung yang datang. 

Hal tersebut, menurutnya malah memicu kecemburuan sosial. Tindakan pengrusakan terhadap habitat Rafflesia, bahkan merusak inangnya hingga bongkolnya seperti dibelah sebelum mekar, diduga dipicu karena hal tersebut. 

“Padahal Rafflesia itu dilindungi, jika ketahuan dengan sengaja merusaknya, sesuai Undang-Undang nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi Sumber Daya Alam, hal itu bisa dipidana,” kata Sofian.

Oleh karena itu, tentunya sebelum benar-benar terlambat, harus ada upaya untuk melestarikan Rafflesia. Jika tidak, suatu saat tidak akan ada lagi yang bisa menikmati keindahan Rafflesia. Rafflesia bisa jadi hanya akan menjadi cerita bagi anak cucu. (Bersambung)

Oleh : Ricky Jenihansen B
Name

Advertorial,193,Bandar Lampung,418,Banyuasin,61,Bengkulu,2038,Bengkulu Selatan,1,Bengkulu Utara,4,Budaya,41,Curup,1,Ekbis,187,Ekbis Bengkulu,162,Ekbis Jambi,1,Ekbis Lampung,33,Ekbis Sumsel,10,Empat Lawang,1,Event,36,Hot News,30,Internasional,4,Jakarta,33,Kabar Kampus,159,Kabar Pasar,14,Kaur,4,Kepahiang,7,Kesehatan,2,Kongkalikong,107,Kota Bengkulu,93,Kriminal,426,Lampung,2992,Lampung Barat,18,Lampung Selatan,233,Lampung Tengah,633,Lampung Timur,48,Lampung Utara,126,Lifestyle,28,Lubuklinggau,414,Mesuji,368,Metro,70,Muara Enim,6,Muratara,81,Musi Banyuasin,798,Musirawas,194,Nasional,90,Ogan Ilir,2,Olahraga,125,Opini,20,Palembang,56,Pendidikan,139,Pesawaran,124,Pesisir Barat,118,Pilkada Bengkulu,56,Pilkada Lampung,148,Pilkada Sumsel,56,Pilpres2019,9,Politik,257,Pringsewu,28,Rejang Lebong,31,Ruajurai,371,Seluma,353,Seluma Bengkulu,1,Sigerindo,3,Sumsel,1573,Tajuk,7,Tanggamus,48,Tuba,65,Tuba Barat,271,Waykanan,33,Wisata,2,
ltr
item
SIGERINDO: Menakar Ancaman Kepunahan dan Misteri Rafflesia (Bagian 3)
Menakar Ancaman Kepunahan dan Misteri Rafflesia (Bagian 3)
https://lh3.googleusercontent.com/-j0V2ktxc-Kk/WkEUhEXpglI/AAAAAAAAUzA/fpexA__x1TIO6lt_ofEEl5VOtAbaNzvrACHMYCw/%255BUNSET%255D
https://lh3.googleusercontent.com/-j0V2ktxc-Kk/WkEUhEXpglI/AAAAAAAAUzA/fpexA__x1TIO6lt_ofEEl5VOtAbaNzvrACHMYCw/s72-c/%255BUNSET%255D
SIGERINDO
http://www.sigerindo.com/2017/12/menakar-ancaman-kepunahan-dan-misteri_26.html
http://www.sigerindo.com/
http://www.sigerindo.com/
http://www.sigerindo.com/2017/12/menakar-ancaman-kepunahan-dan-misteri_26.html
true
6922078379625016448
UTF-8
Loaded All Article Not found any posts View All Baca Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All Baca Juga Sigerindo ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Konten Telah Kadaluarsa, Silahkan Klik Tombol Home Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu Senin Selasa Rabu Kams Jum'at Sabtu Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Augustus September Oktober November December Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy