Dilema Membatasi Sawit di Hutan Produksi Terbatas

Sigerindo Bengkulu - Untuk anak cucu? Kami tidak mikir itu, yang penting kami sekarang ingin makan. Usia saya sudah 60 tahun, kalau nanam ...

Sigerindo Bengkulu - Untuk anak cucu? Kami tidak mikir itu, yang penting kami sekarang ingin makan. Usia saya sudah 60 tahun, kalau nanam kayu keras, 10 atau 20 tahun lagi baru panen, mungkin saya sudah tidak ada lagi," Abu Naim dengan lantang berbicara mewakili tokoh masyarakat lainnya saat berdialog dengan pihak KPHP (Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi) dan Penyuluh Kehutanan Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu yang difasilitasi oleh Yayasan Genesis bersama dengan Pundi Sumatera, Rabu (1/8/2018) malam di balai Desa Lubuk Bento, Kecamatan Pondok Suguh, Kabupaten Mukomuko.

Yayasan Genesis dan Pundi Sumatera adalah dua lembaga yang merupakan bagian dari skema TFCA-Sumatera (Tropical Forest Conservation Action for Sumatera), yaitu aksi nyata konservasi hutan tropis Sumatera yang bertujuan untuk melestarikan hutan tropis Sumatera yang laju deforestasinya sangat tinggi di Indonesia.

Gambar 2 Peta Lokasi Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu (Sumber: Yayasan Genesis)

Kabupaten Mukomuko yang berjarak sekitar 200 km dari Kota Bengkulu, adalah salah satu dari banyak daerah di Sumatera yang laju deforestasinya seakan tidak terbendung dan yang paling mendapat perhatian akhir-akhir ini adalah HPT yang berbatasan langsung dengan Desa Lubuk Bento dan Air Berau yang diketahui telah dirambah oleh perusahaan swasta perkebunan sawit, PT. Daria Dharma Pratama (DDP) seluas 371 hektar yang dijadikan perkebunan sawit.

Secara keseluruhan, kawasan HPT yang berbatasan langsung dengan dua desa tersebut berarti diketahui ada sekitar 1.171 ha kawasan hutan terbatas yang dirambah dan dijadikan perkebunan sawit. Sekitar 371 hektar dirambah oleh PT.DDP, kemudian sekitar 800 hektar dirambah oleh masyarakat berdasarkan pemuktahiran peta oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI tahun 2017. Hanya saja, tidak diketahui pasti antara masyarakat atau PT.DDP yang memulai merambah kawasan HPT, yang jelas, sejauh mata memandang kawasan hpt di sini sudah berubah menjadi sawit.

Maka lahan seluas 371 hektar yang dirambah oleh PT.DDP kemudian diputuskan untuk ditutup, ribuan pohon sawit yang sudah tumbuh sekitar 1-2 meter kemudian disuntik mati. Sementara sekitar 800 hektar lahan yang juga sudah terlanjur dirambah oleh warga diupayakan untuk diusulkan menjadi perhutanan sosial dengan syarat tidak menanam kembali tanaman sawit dan menggantinya dengan tanaman kayu, karena memang tanaman sawit tidak termasuk dalam konsep perhutanan sosial.

Gambar 3 Tanaman sawit di lahan perambahan PT.DDP yang telah disuntik mati sudah menguning. (Sumber: Dok Pribadi)

"Kita memang harus menyelamatkan kawasan hutan dan melestarikannya, namun bagaimanapun juga masyarakat juga butuh penghidupan. Oleh karena itu, kawasan HPT yang sudah terlanjut dibuka oleh masyarakat diupayakan untuk diusulkan sebagai perhutanan sosial," kata Uli Artha, Direktur yayasan Genesis.

Namun ternyata, pemecahan masalahnya tidak semudah itu. Upaya pengalihan komoditas dari sawit ke tanaman kayu mendapatkan resistensi dari masyarakat setempat yang bahkan mengancam angkat senjata jika tanaman sawit mereka yang telah tumbuh di kawasan HPT harus dimatikan karena mereka mayoritas hidup dari komoditas sawit.

Masyarakat sebenarnya, paham bagaimana sawit telah menurunkan kualitas alam mereka, seperti misalnya mereka harus menggali hingga 12 meter untuk bisa mendapat air untuk sumur mereka, padahal 1 dekade lalu mereka cukup menggali 5 meter sudah mendapatkan air. Atau seperti air terjun bersejarah kebanggaan mereka, Air Terjun Mandi Angin yang masyarakat yakini debit airnya terus menurun dari waktu ke waktu semenjak mereka menanam sawit di sepanjang aliran Sungai Air Berau.


  • Hanya saja, sepertinya mereka tidak ada pilihan lain untuk dapat bertahan hidup. Sementara lahan terdahulu mereka yang ditanami karet telah dijual ke perusahaan perkebunan sawit, masyarakat yang melihat semakin berkembangnya perusahaan sawit swasta di sana akhirnya ikut-ikutan ingin menanam sawit, namun terlambat disadari, tidak ada lahan lagi untuk ditanami selain memasuki kawasan HPT.


Gambar 4 Air Terjun Mandi Angin, air terjun bersejarah di tengah kepungan sawit. (Sumber: Dok Pribadi)

Sementara itu, Sri Mulyanti, Penyuluh Kehutanan Kabupaten Mukomuko mengatakan jika memang masyarakat menolak sawit mereka dimatikan, sebenarnya masih ada toleransi jika usulan perhutanan sosialnya dari masyarakat diterima. Sawit-sawit yang sudah terlanjur tumbuh masih dibiarkan tumbuh sampai usia 12 tahun, namun setelahnya tetap harus dimatikan dan tidak boleh lagi ditanam kembali.

"Artinya, masyarakat masih bisa mendapatkan penghasilan dari tanaman sawit mereka sampai sawit itu berumur 12 tahun. Nah dalam kurun waktu itu, masyarakat juga bisa memulai menanam komoditas lain yang kemudian diselingi dengan tanaman kayu," jelasnya.

Ia mencontohkan kelompok tani dari desa lain yang usulan perhutanan sosial mereka hanya tinggal menunggu verifikasi dan izin. Kelompok itu masih diperbolehkan merawat tanaman sawit mereka hingga berumur 12 tahun, di sisi lain, mereka sudah mulai menanam pohon kayu bawang yang menurutnya didapatkan dari bantuan pemerintah Kabupaten Mukomuko dan beberapa pihak lainnya.

Mereka juga akan mulai menanam pala di sela-sela tanaman sawit mereka yang diharapkan dapat menjadi komoditas pengganti di masa akan datang.
Hanya saja sepertinya masih banyak pihak yang skeptis dengan langkah yang mungkin diambil dengan masih membiarkan tanaman sawit di kawasan hpt hingga 12 tahun sebelum kemudian digantikan dengan tanaman kayu tersebut.

Apalagi usia 12 tahun bagi tanaman sawit adalah usia keemasan, masa puncak produksinya. Dilematis memang, apakah cukup dengan membatasi sawit atau harus memusnahkannya dengan kesiapan untuk menghadapi perlawanan masyarakat. (**)

Ricky Jenihansen B
Name

Advertorial,193,Bandar Lampung,416,Banyuasin,45,Bengkulu,2035,Bengkulu Selatan,1,Bengkulu Utara,3,Budaya,41,Curup,1,Ekbis,185,Ekbis Bengkulu,162,Ekbis Jambi,1,Ekbis Lampung,33,Ekbis Sumsel,10,Empat Lawang,1,Event,36,Hot News,11,Internasional,4,Jakarta,31,Kabar Kampus,152,Kabar Pasar,14,Kaur,4,Kepahiang,7,Kesehatan,2,Kongkalikong,105,Kota Bengkulu,93,Kriminal,425,Lampung,2949,Lampung Barat,18,Lampung Selatan,216,Lampung Tengah,636,Lampung Timur,48,Lampung Utara,125,Lifestyle,28,Lubuklinggau,412,Mesuji,354,Metro,70,Muara Enim,3,Muratara,81,Musi Banyuasin,705,Musirawas,191,Nasional,90,Ogan Ilir,2,Olahraga,123,Opini,20,Palembang,48,Pendidikan,138,Pesawaran,123,Pesisir Barat,117,Pilkada Bengkulu,56,Pilkada Lampung,148,Pilkada Sumsel,56,Pilpres2019,9,Politik,256,Pringsewu,28,Rejang Lebong,30,Ruajurai,373,Seluma,353,Seluma Bengkulu,1,Sigerindo,3,Sumsel,1455,Tajuk,7,Tanggamus,48,Tuba,65,Tuba Barat,269,Waykanan,33,Wisata,2,
ltr
item
SIGERINDO: Dilema Membatasi Sawit di Hutan Produksi Terbatas
Dilema Membatasi Sawit di Hutan Produksi Terbatas
https://1.bp.blogspot.com/-BNFnerJ_Gw4/W2qToHoU9QI/AAAAAAAAbgo/OpPebI0w24A8TUkbA-SgCVYFmnNKE3M4ACLcBGAs/s320/IMG_20180808_134945.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-BNFnerJ_Gw4/W2qToHoU9QI/AAAAAAAAbgo/OpPebI0w24A8TUkbA-SgCVYFmnNKE3M4ACLcBGAs/s72-c/IMG_20180808_134945.jpg
SIGERINDO
http://www.sigerindo.com/2018/08/dilema-membatasi-sawit-di-hutan.html
http://www.sigerindo.com/
http://www.sigerindo.com/
http://www.sigerindo.com/2018/08/dilema-membatasi-sawit-di-hutan.html
true
6922078379625016448
UTF-8
Loaded All Article Not found any posts View All Baca Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All Baca Juga Sigerindo ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Konten Telah Kadaluarsa, Silahkan Klik Tombol Home Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu Senin Selasa Rabu Kams Jum'at Sabtu Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Augustus September Oktober November December Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy