Koordinator AMPD Abdul Razak Apresiasi Bawaslu LamTeng Panggil Walikota Metro dan Kepala Kampung terkait dugaan Pelanggaran Pilkada - SIGERINDO.COM

Koordinator AMPD Abdul Razak Apresiasi Bawaslu LamTeng Panggil Walikota Metro dan Kepala Kampung terkait dugaan Pelanggaran Pilkada

  Koordinator AMPD Abdul Razak Apresiasi Bawaslu LamTeng Panggil Walikota Metro dan Kepala Kampung terkait dugaan Pelanggaran Pilkada

Sigerindo Lampung Tengah— Koordinator Aliansi Masyarakat Peduli Demokrasi (AMPD) sekaligus Ketua LSM Basmi, Abdul Razak mengapresiasi atas langkah yang diambil Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Lampung Tengah, memanggil Wali Kota Metro, Ahmad Pairin dan beberapa orang Kepala Kampung Kecamatan Rumbia, terkait dugaan pelanggaran Pilkada, beberapa waktu lalu.

"Apa yang dilakukan oleh Bawaslu adalah bentuk profesional lembaga penyelenggaran Pemilu Lamteng, saya sangat mengapresiasi hal itu," ujar Razak, saat dikonfirmasi terkait hal tersebut, Senin (19/10).

Menurutnya, Bawaslu harus bekerja secara profesional dan lndependent, agar pelaksanaan Pilkada Khususnya di Kab.Lamteng, dapat berjalan sesuai aturan dan UU yang berlaku. Sehingga Pilkada 2020 ini, akan melahirkan sosok Pemimpin yang benar-benar hasil dari pilihan masyarakat, tanpa ada paksaan dan intervensi dari pihak manapun.

"Kita tunggu saja, apa hasil dari klarifikasi pihak Bawaslu terhadap Wali Kota Metro, dan beberapa Kakam itu. Dan saya berharap klarifikasi tersebut benar-benar profesional, jangan hanya sebagai formalitas saja," tegas Razak.

Lebih lanjut Abdul Razak meminta pihak Bawaslu Lamteng, dan Gakkumdu memproses tindak pidana Pemilu yang diduga melibatkan Kepala Kampung dan ASN saat kampanye pasangan Nomor Urut 2 Musa – Dito.

Hal ini sesuai aturan sebagai berikut:
A. Larangan Desa Kepala Desa Dan Perangkat Desa Dalam Politik Praktis dan Kampanye.

1. Berdasarkan UU Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa:

Pasal 29 huruf (b) membuat keputusan yang menguntungkan diri sendiri, anggota keluarga, pihak lain, dan/atau golongan tertentu huruf (g) disebutkan bahwa kepala desa dilarang menjadi pengurus partai politik dan pada huruf (j) dilarang untuk ikut serta dan/atau terlibat dalam kampanye pemilihan umum dan/atau pemilihan kepala daerah. Dalam undang-undang tersebut, kepala desa memilki peran sebagai pihak yang netral. Kepala desa dilarang untuk ikut serta dalam politik praktis, tidak bisa menjadi pengurus partai politik atau anggota partai politik dan tidak dapat juga menjadi tim kampanye atau tim sukses peserta pemilu atau pilkada.

Perangkat desa yang terdiri dari sekretariat desa, pelaksana kewilayahan, dan pelaksana teknis juga dilarang untuk terlibat dalam politik praktis. Hal tersebut diatur UU Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa pasal 51 huruf (b) membuat keputusan yang menguntungkan diri sendiri, anggota keluarga, pihak lain, dan/atau golongan tertentu huruf (g) disebutkan bahwa kepala desa dilarang menjadi pengurus partai politik dan pada huruf (j) dilarang untuk ikut serta dan/atau terlibat dalam kampanye pemilihan umum dan/atau pemilihan kepala daerah.
Dalam UU No. 10 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas undang undang nomor 1 tahun 2015 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti Undang-Undang nomor 1 tahun 2014 tentang pemilihan gubernur, bupati, dan walikota menjadi undang-undang;

Pada pasal 70 ayat (1) huruf (c) disebutkan bahwa Dalam kampanye, pasangan calon dilarang melibatkan kepala desa atau sebutan lain/Lurah dan perangkat Desa atau sebutan lain/perangkat Kelurahan.
• Pasal 71 ayat (1) disebutkan bahwa Pejabat negara, pejabat daerah, pejabat aparatur sipil negara, anggota TNI/POLRI, dan Kepala Desa atau sebutan lain/Lurah dilarang membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon.

B. Sanksi terhadap Kepala Desa dan Perangkat Desa yang melanggar larangan dalam Politik Praktis
1 . UU No. 6 Tahun 2014:

• Pasal 30 ayat (1) Kepala Desa yang melanggar larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 dikenai sanksi administrative berupa teguran lisan dan/atau teguran tertulis. (2) Dalam hal sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dilaksanakan, dilakukan tindakan pemberhentian sementara dan dapat dilanjutkan dengan pemberhentian.

• Pasal 52 ayat (1) Perangkat Desa yang melanggar larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 dikenai sanksi administratif berupa teguran lisan dan/atau teguran tertulis. (2) Dalam hal sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dilaksanakan, dilakukan tindakan pemberhentian sementara dan dapat dilanjutkan dengan pemberhentian


2. Dalam UU No. 10 Tahun 2016 jo. UU No. 1 Tahun 2015


• Pasal 71 ayat (5) Dalam hal Gubernur atau Wakil Gubernur, Bupati atau Wakil Bupati, dan Walikota atau Wakil Walikota selaku petahana melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3), petahana tersebut dikenai sanksi pembatalan sebagai calon oleh KPU Provinsi atau KPU Kabupaten/Kota.

• Pasal 188 Setiap pejabat negara, pejabat Aparatur Sipil Negara, dan Kepala Desa atau sebutan lain/Lurah yang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp600.000,00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp6.000.000,00 (enam juta rupiah).

• Pasal 189, Calon Gubernur, Calon Bupati, dan Calon Walikota yang dengan sengaja melibatkan pejabat badan usaha milik negara, pejabat badan usaha milik daerah, Aparatur Sipil Negara, anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, anggota Tentara Nasional Indonesia, dan Kepala Desa atau sebutan lain/Lurah serta perangkat Desa atau sebutan lain/perangkat Kelurahan sebagaimana dimaksud Pasal 70 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp600.000,00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyakRp6.000.000,00 (enam juta rupiah).

Dalam pemilihan kepala daerah, kepala desa dan perangkat desa dapat dikenai sanksi pidanan bila terbukti melakukan pelanggaran dengan melakukan keputusan seperti kegiatan-kegiatan serta program di desa dan juga melakukan perbuatan atau tindakan yang mengarah keberpihakan kepada salah satu pasangan calon atau calon kepala daerah yang terindikasi merugikan calon lain misalnya ikut serta dalam kegiatan kampanye. "Calon Kepala daerah yang melibatkan kepala desa dan perangkat desa dapat dikenai sanksi pidana sebagai calon kepala daerah," tegas Razak. (RIL)