Gubernur Lampung Mirza Dorong Hilirisasi Pertanian melalui Program Desaku Maju, Pemanfaatan Bed Dryer Catat Nilai Tambah Jagung dan Gabah
Sigerindo Bandar Lampung -- Rahmat Mirzani Djausal Gubernur Provinsi Lampung mendorong penguatan hilirisasi pertanian melalui pemanfaatan teknologi pengeringan hasil panen di tingkat desa. Upaya ini menjadi bagian dari Program Desaku Maju untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian dan memperkuat manfaatnya bagi petani.
Hal tersebut disampaikan Langsung oleh Gubernur Mirza saat acara STABEK 9 (Seminar Teknologi, Akuntansi, Bisnis, Ekonomi, dan Komunitas) yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung (Unila) di Golden Tulip Springhill, Bandarlampung, Kamis (22/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, ia memaparkan studi pendahuluan berjudul Analisis Nilai Tambah Bruto Pengeringan Jagung dan Gabah pada Penerima Bed Dryer Program Desaku Maju.
Gubernur Mirza, yang juga merupakan mahasiswa Program Doktoral Ilmu Ekonomi Unila, menjelaskan bahwa sektor pertanian memiliki peran penting bagi masyarakat Lampung.
Sebanyak 88,21 persen desa di Provinsi Lampung berbasis pertanian, sedangkan komoditas padi dan jagung menjadi sumber penghidupan sekitar 500.000 kepala keluarga atau kurang lebih dua juta penduduk
Menurutnya, salah satu tantangan yang dihadapi petani adalah tingginya kadar air pada jagung dan gabah saat panen. Jika tidak segera dikeringkan, hasil panen berisiko mengalami penyusutan dan penurunan mutu yang dapat memengaruhi harga jual.
Melalui Program Desaku Maju, Pemerintah Provinsi Lampung menyalurkan 34 unit bed dryer pada 2025 untuk mendukung pengeringan dan hilirisasi hasil pertanian di tingkat desa
Penelitian yang dilakukan bertujuan mengukur manfaat ekonomi dari pemanfaatan alat tersebut sekaligus melihat peluang peningkatan nilai tambah hasil panen sebelum dipasarkan atau diolah lebih lanjut
Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa seluruh unit yang diteliti menghasilkan Nilai Tambah Bruto (NTB) positif. Nilai tambah rata-rata tercatat sebesar Rp407 per kilogram untuk jagung dan Rp271 per kilogram untuk gabah
Temuan tersebut menjadi gambaran awal bahwa proses pengeringan berpotensi meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian
Gubernur Lampung Mirza menjelaskan bahwa pengeringan merupakan tahap awal dalam pengembangan hilirisasi pertanian. Setelah melalui proses pengeringan, komoditas pertanian berpeluang diolah lebih lanjut menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti beras, pakan ternak, konsentrat, kopi, dan mocaf
Pengembangan teknologi pengeringan juga dapat disesuaikan dengan karakteristik masing-masing komoditas. Dengan demikian, penguatan hilirisasi tidak hanya berfokus pada penyediaan alat, tetapi juga pada pengelolaan usaha dan pemanfaatannya agar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat desa
Melalui pengembangan pengeringan dan hilirisasi di tingkat desa, pemerintah berharap potensi komoditas pertanian Lampung dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar sekaligus memperkuat kesejahteraan petani

