Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting


Perkuat Gerakan Lawan TBC, PPTI-Dinkes-TP PKK Kota Metro Kunjungi 5 Keluarga Penderita

Sigerindo Lampung Utara -- Upaya memerangi Tuberkulosis (TBC) tidak cukup hanya dilakukan melalui pelayanan kesehatan di fasilitas medis. Diperlukan kepedulian, keterlibatan masyarakat, penguatan peran keluarga, serta pendampingan berkelanjutan agar setiap penderita mendapatkan pengobatan yang tepat hingga sembuh

Berangkat dari semangat tersebut, Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Cabang Kota Metro bersama Dinas Kesehatan dan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Metro, memperkuat gerakan penanggulangan TBC melalui kegiatan bakti sosial, edukasi kesehatan, dan kunjungan langsung kepada keluarga penderita di wilayah Kecamatan Metro Timur, Sabtu 7/11/26

Kegiatan yang mengusung semangat “Temukan, Obati, Sampai Sembuh!” ini menjadi bentuk sinergi lintas sektor dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya TBC, memperkuat upaya penemuan kasus secara dini, serta memastikan penderita memperoleh dukungan selama menjalani pengobatan

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua PPTI Cabang Kota Metro, Hj. Eni Sumiyati Bambang; Kepala Dinas Kesehatan Kota Metro, dr. Fitri Agustina, M.KM.; Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Metro, Verawati Nasution, SKM., M.Kes.; serta Ketua Pokja IV TP-PKK Kota Metro sekaligus Kepala UPTD Puskesmas Metro, Tri Imawati, S.ST., Bdn.

Kegiatan ini juga melibatkan kader Tuberkulosis, TP-PKK Kecamatan Metro Timur, serta kader TP-PKK dari lima kelurahan, yakni Yosorejo, Yosodadi, Iringmulyo, Tejoagung, dan Tejosari guna memperluas jangkauan edukasi kesehatan hingga tingkat keluarga dan lingkungan masyarakat.

Kehadiran Ketua Kehormatan PPTI Cabang Kota Metro, Ny. Eni Sumiyati Bambang, S.IP., bersama jajaran PPTI mengunjungi lima rumah warga penderita TBC di wilayah Kecamatan Metro Timur, dilakukan tidak hanya memperkuat gerakan melalui koordinasi dan edukasi, melainkan sebagai wujud aksi sosial secara langsung

Sebanyak lima rumah disambangi, yang mana merupakan tempat tinggal warga penderita. Untuk karateristik usia mulai dari 0 hingga 66 tahun. Rentang usia tersebut menjadi pengingat bahwa TBC dapat menyerang berbagai kelompok usia, sehingga membutuhkan kewaspadaan, pemeriksaan, dan penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing penderita

Dalam kunjungan tersebut, Ny. Eni bersama jajaran PPTI tidak hanya melihat secara langsung kondisi penderita dan keluarganya, tetapi juga berdialog, memberikan motivasi, serta menyerahkan bantuan berupa paket sembako. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu meringankan kebutuhan sehari-hari keluarga, sekaligus menjadi bentuk dukungan sosial bagi mereka yang sedang mendampingi anggota keluarganya menjalani pengobatan

Lebih dari sekadar bantuan materi, kunjungan tersebut juga membawa pesan penting mengenai penguatan mental dan semangat kesembuhan. Dimana pada saat berkunjung, Ny Eni memberikan motivasi kepada para penderita agar tidak kehilangan harapan, tetap percaya diri, dan menjalani pengobatan secara teratur hingga tuntas sesuai anjuran tenaga kesehatan

“Jangan khawatir dan jangan putus asa, TBC itu bisa disembuhkan. Yang penting, obatnya diminum secara teratur, pengobatannya jangan sampai terputus, dan harus dijalani sampai tuntas sesuai anjuran dokter. Jadi, tetap semangat, jangan malu, dan jangan merasa minder. Dengan pengobatan yang benar dan dukungan keluarga, kita berharap semuanya bisa kembali sehat,” ungkap Ny. Eni

Ia juga mengingatkan bahwa penderita TBC membutuhkan dukungan dan penerimaan dari lingkungan sekitarnya. Menurutnya, penyakit tersebut tidak boleh menjadi alasan bagi siapa pun untuk mengucilkan atau memberikan perlakuan diskriminatif terhadap penderita

Selain memberikan bantuan dan penguatan moral, kunjungan tersebut dimanfaatkan untuk menyampaikan edukasi mengenai penanganan dan pencegahan TBC, khususnya kepada anggota keluarga yang memiliki kontak erat dengan penderita

Edukasi tersebut meliputi pentingnya mengenali gejala TBC sejak dini, melakukan pemeriksaan kesehatan bagi anggota keluarga yang berkontak erat, menerapkan etika batuk yang benar, menjaga kebersihan lingkungan, serta memastikan rumah memiliki sirkulasi udara dan pencahayaan yang memadai

“Kita harus mengenali gejala TBC sejak dini. Anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita juga perlu melakukan pemeriksaan kesehatan. Selain itu, biasakan menerapkan etika batuk yang benar, menjaga kebersihan lingkungan, dan memastikan rumah memiliki sirkulasi udara serta pencahayaan yang baik. Hal-hal sederhana seperti ini sangat penting untuk membantu mencegah penularan TBC,” jelasnya

Ny. Eni juga menekankan pentingnya pendampingan terhadap penderita maupun anggota keluarga yang berkontak erat untuk mengetahui kemungkinan infeksi atau penyakit TBC sehingga dapat segera memperoleh tindak lanjut sesuai hasil pemeriksaan tenaga kesehatan

Sebagai Ketua Kehormatan, ia berharap keluarga dapat menjadi lingkungan pendukung bagi penderita, baik dalam menjaga kedisiplinan pengobatan maupun dalam menerapkan langkah-langkah pencegahan. Dengan demikian, upaya penanggulangan TBC tidak hanya berfokus pada kesembuhan penderita, tetapi juga pada perlindungan kesehatan seluruh anggota keluarga

Dalam kesempatan tersebut, Ny. Eni menyampaikan bahwa kunjungan langsung dilakukan untuk melihat kondisi masyarakat sekaligus mempererat hubungan antara organisasi dan keluarga penderita.

“Kami bersama jajaran PPTI turun langsung ke wilayah Metro Timur, mulai dari Yosorejo, Yosodadi, Ganjar Agung, Ganjar Asri, hingga Iringmulyo, untuk melihat kondisi penderita dan keluarganya. Kami ingin memberikan perhatian, pendampingan, serta edukasi mengenai TBC. Dengan hadir langsung di tengah masyarakat, kami berharap dapat lebih dekat dengan mereka dan mengetahui kebutuhan yang perlu mendapatkan perhatian,” tandasnya (*)