Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting


Ilegal Loging Jarah Paru-paru Dunia, TNKS Ngotot Anggaran Minim ?

Sigerindo, Kerinci - Kawasan hutan rimba di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi merupakan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Hutannya yang lebat dan asri diharapkan menjadi penyumbang oksigen bagi warga dunia.

Demi terjaganya ekosistim alam, bahkan hutan di Kerinci dinobatkan sebagai hutan paru-paru dunia salah satu yang terbaik. Dengan begitu, kelestarian hutan Kerinci wajib hukumnya dijaga.

Kehadiran Balai Besar Taman Nasional Kerinci Sebelat (BB-TNKS) yang berkantor di Kerinci, tentunya sebagai pemikul amanah dalam menjaga kelestarian hutan Kerinci.

Ironisnya, kondisi tersebut berbanding terbalik dari kenyataan yang diterima. Tanpa alasan pasti yang bisa diterima begitu saja.

“Hutan TNKS yang berada dikawasan tujuan wisatawan saja tepatnya di pinggang Gunung Kerinci bisa dengan leluasa dijarah. Bayangkan apa lagi hutan dipedalaman yang jauh dari pemantauan.” Ungkap Aktivis Reaksi Kerinci, Kusnadi.

Menakjubkan lagi, lanjutnya. Pihak TNKS bahkan secara terang-terangan menyadari itu. Soalah tanpa beban dengan kondisi itu.

“Yang bikin kita takjub, Pihak TNKS terang-terangan mengakui itu. saya baca di media 2000 Hektar hutan TNKS sudah dirambah di kawasan Gunung Kerinci,”Ungkapnya.

Sebelumnya pihak TNKS, melalui Kepala Seksi Perencanaan Perlindungan dan Pengawetan, Wira mengakui telah terjadi perambahan hutan secara jor-joran dikawasan Gunung Kerinci.

“Di Gunung Kerinci dalam kawasan TNKS, ada 2000 hektar hutan yang sudah dirambah.” Kata Wira kepada wartawan dan rombongan Hearing Aliansi Bumi di BB TNKS, Senin (15/03).

Lantas TNKS pun dengan santai malah mengaku kewalahan mengurus hutan di Kerinci. Alasannya pun terkesan klasik, gegara banyaknya keterbatasan dan Kendala.

Anggaran yang tidak memadai pun, menjadi senjata pihak TNKS menanggapi persoalan pembajakan hutan di Gunung Kerinci.

Rp40 Milyar disebut TNKS bukan untuk mengurus kawasan TNKS di wilayah Kerinci saja, melainkan untuk 16 Kabupaten di 4 Provinsi. Benarkah ?

“Personil sedikit, sementara kawasan yang akan diamankan luas, kita sangat kesulitan, Rp40 Milyar itu untuk 16 Kabupaten di 4 Provinsi.”Sebut Wira.

Hutan rimba Kerinci dijadikan kawasan TNKS. Bahkan disebut sebagai salah satu paru-paru dunia terbaik.

Dengan begitu, mustahil kiranya tanpa mendapat perhatian khusus dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI.

“Kawasan hutan TNKS di Kerinci disebut sebagai Paru-paru dunia, rasanya mustahil tanpa mendapat perhatian serius dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.”Ungkap Anto Black, Penggagas Aliansi Peduli Pariwisata Kerinci, Kepada sejumlah media. Jumat (19/03).

Mirisnya, Alih-alih dengan alasan Klasik pihak TNKS ngotot beralasan karena keterbatasan biaya atau minimnya anggaran.

“Alasan klasik itu, minimnya anggaran dan sedikitnya personil, kok mencuatnya baru sekarang. Selama ini kemana ?.” Ungkapnya.

“Apapun alasannya, TNKS harus bertanggungjawab atas perambahan hutan di Gunung Kerinci.”cetus Anto.

Sebelumnya, sumber mengaku selain dari oknum pembuka lahan, ada juga pelaku Illegal Loging kayu hutan.

“Disamping oknum peladang juga para pelaku Illegal Loging yang berasal dari seputaran Kecamatan Kayu Aro, Kayu Aro Barat, Gunung Tujuh juga Kecamatan Gunung Kerinci dan Siulak dll.”Ungkap Subastian Andarno, warga kaki Gunung Kerinci, Kersik Tuo. Kamis (11/03). (Tim)
BERITA TERBARU