Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting



(Opini) Kemiskinan di Daerah SDA Mumpuni, Leadership kah? Oleh: DrH. Arsyad, Pemerhati Sosial Masyarakat


Sigerindo, Bandar Lampung---Kuantitas rakyat yang miskin sangat identik dengan kualitas leadership. Rasanya tidak elok bicara kemajuan suatu daerah bila masih bercokol angka kemiskinan diatas 2 digit. Apalagi daerah tersebut punya keunggulan komparatif pada sumber daya alam yang mumpuni.

Sumber daya alam yang melimpah itu diberikan kewenangan pada manusia sebagai khalifah dimuka bumi untuk mengelolanya. Ketimpangan dalam mengelola sda ( sumber daya alam) inilah asal muasal timbulnya rakyat yang miskin dan kaya.

Fungsi manusia yang diberikan amanah dalam bentuk level apapun itulah yang mengelola alam untuk tidak membiarkan rakyatnya masuk level miskin.

Saking tidak berdayanya rakyat miskin ini, sampai ada yang menawarkan lembaran/ biru pada saat menawarkan program kampanye mau aja menerima dan sebagai salah satu jimat untuk memilih calon pemimpinnya.

Setelah pemimpin nya terpilih, tetap aja rakyat miskin belum naik levelnya. Malah yang datang program barang /benda yang habis untuk kebutuhan dasar perut yang punya waktu kadaluwarsa. Barang/ benda pemberian itu habis, kemiskinan tetap seperti sedia kala.

Sementara pemimpin terpilih sudah banyak cabang pemikiran nya untuk mengangkat elektabilitas nya agar bisa menjadi yang "" The Best "" dengan berbagai penghargaan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pengentasan kemiskinan.

Kemiskinan selalu menjadi momok dalam bagi seorang pemimpin, karena sangat menarik untuk bahan kampanye namun relatif tidak terukur dalam aplikasinya.

Seperti diketahui, kemiskinan menurut Bank Dunia adalah keadaan tidak tercapainya kehidupan yang layak dengan penghasilan USD 1,00 perhari atau kemampuan memenuhi konsumsi makanan setara 1900-2100 kalori/org/hari atau setara dengan RP. 120.000-RP.150.000/org/bulan. Sedangkan menurut BPS kemiskinan adalah suatu kondisi seseorang yang hanya dapat memenuhi makanan nya kurang dari 2100 kalori per kapita perhari....

Yang jelas, tidak seorang pun yang bercita-cita ingin menjadi miskin. Namun sistem, kelembagaan, lingkungan, leadhersip dan lainya yang menjadi kan beberapa warga belum bisa keluar dari level miskin.

Pertanyaan…Sampai kapan kemiskinan bisa turun dibawah 1 digit.? Bersyukurlah pada beberapa daerah yang sudah dibawah 1digit, dan untuk Indonesia secara umum masih diatas 2 digit. Tabik Pun…(Arsyad Husein 12 01 2022)

BERITA TERBARU