Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting



Momentum Ngesti Wedharing Budaya NWB Pasuruan Melahirkan Dalang Baru Ki Haryo Waluyo Tiban

Sigerindo Jatim - Purwosari Purworejo Pasuruan Jawa Timur, Minggu Legi, 10 April 2022. MOMENTUM SEJARAH BARU NGESTI WEDHARING BUDAYA melahirkan Dalang Baru di Joglo Kejayan Pasuruan. Joglo Kejayan Joglo Kejayaan Pasuruan Jawa Timur, Joglo tersebut Kembali Mengukir Sejarah Peristiwa Kejadian dan Kisah, Lahirnya Ki Dalang Baru yaitu Ki Harso Waluyo Tiban, sesudah pada edisi perdana Ki Haryo Waluyo Tiban membuka Wayangan Pagelaran Wayang Kulit Klasik Pertama Kali di Joglo Kejayan Joglo Kejayaan dengan Lakon WAHYU PURBA SEJATI pada Wiyosan NGESTI WEDHARING BUDAYA ke 4, yaitu pada Kamis Pon Malam Jumat Wage, 27 Januari sd 28 Januari 2022, dengan Pagelaran Wayang Kulit Lengkap yang dilayani oleh Gamelan dari Sanggar Budaya NGESTI WEDHARING BUDAYA bersama Guru Dalang Ki Supar dan Dalang Utama, Dalang Ruwatan Ki Winarno Sabdo, Pimpinan NGESTI WEDHARING BUDAYA Pasuruan Jawa Timur Indonesia

Selanjutnya di 5/04/2022 Hari Selasa Legi tersebut adalah Hari Lahirnya Ki Harso Waluyo Tiban jadi Penasehat Perkumpulan dan Organisasi Budaya NGESTI WEDHARING BUDAYA, serentak peneguhan dan pengakuan Ki Winarno Sabdo bahwa Ki Harso Waluyo Tiban sudah layak dan sudah siap jadi Dalang Wayang Pewayangan Lengkap dengan Pagelaran Lakon Semalam.Sunthuk, sesudah melihat sendiri latihan Ki Harso dengan pelatih Guru Dalang Ki Supar dari Ngesti Wedharing Budaya, siang dan sore itu

Momentum POTENSI DIRI KI HARSO WALUYO TIBAN
Ki Winarno menemukan bahwa Ki Harso sudah mempunyai kandungan SUARA EMAS atawa BUNYI EMAS, tak heran karena pernah belajar seluruh lagu dan manggung bareng dalam Konser Rock Klasik bersama Band Rock Legend God Bless bersama Ahmad Albar di Pasuruan, sekarang di Massa Pensiunnya, Ki Harso bertekad menjadi Dalang Wayang Klasik bersama Pagelaran Ngesti Wedharing Budaya, Pimpinan Ki Winarno Sabdo

Momentum KI SUPAR sebagai SANG GURU DALANG NGESTI WEDHARING BUDAYA PASURUAN

Ki Supar sebagai Guru Dalang dari Ngesti Wedharing Budaya Pasuruan, juga mengerti dan menyaksikan sendiri, selain memiliki SUARA EMAS atawa BUNYI EMAS, Ki Harso juga mengerti pakem nada nada dan intonasi dalam membunyikan not not angka pada jenjang anak tangga nada di SUARA atawa BUNYI gamelan yang dimainkan dengan akurat oleh Ki Supar di Gamelan Gendher nya saat itu, beserta penempatan per suku kata, padat cepatnya nada nada secara tepat dengan not nada yang di SUARA kan atawa di BUNYI kan

Momentum KERJASAMA NGESTI WEDHARING BUDAYA dengan JOGLO KEJAYAN JOGLO KEJAYAAN PASURUAN


Suasana siang dan sore Selasa Legi tersebut 5/04/2022 di Joglo Kejayan Joglo Kejayaan Pasuruan saat itu, cuaca sungguh terang benderang, bersamaan saat itu dengan Ki Winarno juga sedang membangun Sanggar Budaya Ngesti Wedharing Budaya di Perumahan Kebon Candi Gondang Wetan Pasuruan, yang ternyata hari itu, langsung di respon dan didukung total oleh Ki Harso Owner Joglo Kejayan Joglo Kejayaan Pasuruan tersebut, berupa dukungan berupa lembaran Partisi Karpet berkerangka Kayu untuk Peredam SUARA atawa BUNYI yang merupakan bongkaran studionya Ki Harso sendiri di massa lalu dan karpet penutup untuk menggenapi peredam dinding Sanggar Budaya Ngesti Wedharing Budaya, yang direncanakan selesai akhir bulan April 2022

Momentum ANGKA KEBERUNTUNGAN NGESTI WEDHARING BUDAYA dan JOGLO KEJAYAAN JOGLO KEJAYAAN PASURUAN

Angka Hari Selasa 3 dan Pasaran Legi 5, sehingga total angka hari pasarannya adalah 8, WOLU WOhing LUhur,yang arti maknya yaitu berbuah keluhuran dan 8, dalam hitungan beraksara Aksara JAWA ywng berjumlah 20 AKSARA, adalah AKSARA ke 8 adalah AKSARA SA, sedangkan Tahun 2022, Aksara 20 dan Aksara ke 2 yaitu Aksara Ngo dan No jadi NGONO suara bunyinya, begitulah adanya, sehingga begitulah kenyataannya, SUDAH SA, semua itu tak ada yang kebetulan.

MOMENTUM Potensi dan Asset NGESTI WEDHARING BUDAYA Pasuruan

SEJARAH BARU Ngesti Wedharing Budaya sudah menemukan dan berhasil menggodok serta memproses kelahiran Dalang Baru di Kabupaten Pasuruan, semakin membangun kepercayaan diri Perkumpulan Organisasi Ngesti Wedharing Budaya Pasuruan Jawa Timur Indonesia, untuk tahun ini dan selanjutnya, bangkal melahirkan banyak karya baru, dimana Sanggar Budaya Ngesti Wedharing Budaya pasti sanggup melahirkan dalang dalang baru, sinden sinden baru, pengrawit prangrawit dan panjak panjak baru, penari penari baru, untuk Budaya Peradaban Pagelaran Wayang Klasik tanpa kehilangan esensi pada aplikasi konten dan konteks perkembangan situasi jaman kekinian, baik lokal, nasional maupun dunia internasional adanya

Momentum LATIHAN demi LATIHAN serta Pembelajaran Buat KI HARSO
Ki Harso bersama Ki Supar sebagai Guru Dalang Ngesti Wedharing Budaya Pasuruan sedang mengodok dan menempa dirinya untuk Lakon baik berupa Lakon perbagian maupun Lakon utuh semalam sunthuk yaitu Lakon Wahyu Mahkota Rama

Momentum KEGEMBIRAAN dan KEBAHAGIAAN Pimpinan NGESTI WEDHARING BUDAYA

Ki Winarno hari itu, Selasa Legi 5/04/2022 menyempatkan diri menyaksikan latihan dan gladi resiknya, berikut memberi masukan dan pertanyaan pertanyaan super tepat karena langsung dibuktikan dan direspon oleh Ki Harso Waluyo Tiban untuk unjuk kebolehannya, dengan tentunya di beri masukan, arahan serta dipandu merdu indah lembut oleh Gendher Ki Supar, sambil diselingi tawa canda saling cocokan intonasi tinggi rendah, naik turun, datar, lambat konstan hingga bunyi getar Sang Dalang Baru Ki Harso oleh Ki Supar Gurunya, untuk mempersiapkan debut baru sebagai DALANG WAYANG KULIT Pagelaran SEMALAM SUNTHUK, Wayang Klasik bersama Team Ngesti Wedharing Budaya Pasuruan

Momentum PELUANG dan POTENSI NGESTI WEDHARING BUDAYA Membangun Budaya Peradaban


Senyuman dan Tawa Canda Siang Sore Hari Itu di Joglo Kejayan Joglo Kejayaan Pasuruan Jawa Timur menjadi tanda dan energi dari Sang Pencipta serta rasa bungah bahagia riang ria para leluhur akan peran serta Budaya Wayang Kulit Klasik dalam Peran Sertanya yang luar biasa untuk turut serta Membangun Budaya Peradaban Nusantara Indonesia berbasis Budaya Pekerti Luhur dan Punya Norma Norma Kebaikan Keluhuran, yang sudah mengakar dalam ajaran budaya budi pekerti luhur dan ajaran agamanya serta tegak pada kebenaran dalam kepatuhannya pada Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pemilik Semua Ciptaan juga Tuhan Sang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, yang meliputi segala yang ada, ada di segala yang ada, bersama dengan segala yang ada

Momentum Bagaimana Tuhan Mencipta dalam Pandangan Khairuddin Lubis terkait Budaya Peradaban
Mengacu dari berbagai pesan yang didapat dari berbagai ajaran yang mengarah kepada keberadaan-Nya, saya memahaminya bahwa ciptaan yang paling mulia dari ciptaan-Nya adalah manusia, merupakan perwujudan-Nya. Dia juga bicara, berbuat dan berpikir laiknya manusia dalam konteks sebagai Tuhan

Sebelum mencipta, seyogianya Dia berpikir. Pikiran-Nya inilah yang membentuk semua yang ada, dari dzat-Nya sendiri. Grand desain ciptaan-Nya hadir bersama dengan sifat, nama dan mekanisme tumbuh kembang dan mekanisme interaksi dengan sesama bahkan dengan-Nya. Selain dari itu, juga menyertakan alat ukur sebagai modal dasar pembelajaran, yang diindikasikan sebagai gerakan energi yang berikutnya dikenal sebagai frekuensi. Data terkait hal ini disematkan pada jiwa setiap yang ada.

Apa yang saya sampaikan adalah oleh sebab saya mengalami melalui pendekatan meditasi.

Grand desain seluruh yang diciptakan diturunkan sekaligus. Diiringi dengan realita seperti yang tertuang dalam grand desain itu sendiri.

Oleh sebab Dia meliputi, maka semua yang ada tercipta dari bagian dzat-Nya. Proses penciptaan dimulai dari SUARA atawa BUNYI, yang kemudian mempengaruhi dzat-Nya membentuk apa saja yang bersesuaian dengan kehendak-Nya .

Semua yang ada berasal bagian dari dzat-Nya, dimana Dia meliputi semua yang ada, maka Dia memiliki kuasa untuk menundukkan semua yang ada. Untuk menjaga eksistensi yang Dia ciptakan, Dia menjaga, memelihara dan mengawasinya.


Kehendak bebas dan daya khayal yang dianugerahkan kepada manusia (ciptaan yang sempurna sebagai ciptaan) adalah kebebasan yang diberikan agar manusia dapat memberdayakan alam dan dirinya. Bukan untuk memperdayakan. Tenggang antara memberdayakan dan memperdayakan itulah game yang harus diperjuangkan

Kebebasan untuk memilih dan memilah dan berkreasi agar manusia mampu membangun budaya peradaban dengan frame keseimbangan. Hal ini merupakan konsep kasih sayangnya kepada diri-Nya (dzat-Nya) yang merupakan bagian dari semua yang ada

Bargainingnya bukan transaksional tetapi kesadaran dalam memainkan peran sebagai ciptaan yang paling sempurna adonannya, dari probabilitas kemungkinan yang tak terhingga.

SUARA atawa BUNYI yang ditimbulkan akibat pergerakan dari dzat-Nya akan membentuk apa saja yang bersesuaian dengan grand desain-Nya. Ditandai dengan hadirnya ruang, bentuk, sifat, cahaya, warna, bau, aksara, bilangan, dan berikutnya suhu dan lainnya. Kemudian segala pergerakan yang membutuhkan masa ditandai oleh kita manusia sebagai waktu.

Oleh sebab semua berasal dari dzat-Nya, dan diikat dengan kuasa penundukan-Nya, sambil dijaga eksistensinya melalui penjagaan, pemeliharaan dan pengawasan-Nya dalam frame kasih sayang. Pengawasan bukan untuk mengintip kesalahan, tetapi dalam rangka pengarahan dan bimbingan.

Ada dua hal yang menjadi dasar ciptaan-Nya, yaitu energi (spirit) dan fisik (sel). Dan yang menjadi dasar alat ukurnya adalah frekuensi.

Dengan ilmu dan pengetahuan-Nya, Dia mencipta. Berupaya untuk mengetahui ilmu-Nya itulah yang disebut sains. Pengetahuan akan ilmu-Nya. Ilmu akan pengetahuan akan ilmunya, itulah yang saya sebut dengan teknologi (cara).

Oleh sebab ada dua hal yang menjadi dasar dari segala ciptaan-Nya yaitu: spirit (energi) dan fisik (sel), dimana kedua hal ini tidak mampu diproduksi oleh siapapun kecuali Dia, maka dianugerahkan kepada manusia dua golongan sains agar kita mampu memahami realita yang ada. Pertama sains yang berbasis fisik yang kita kenal dengan ilmu pengetahuan dan kedua sains yang berbasis spirit yang saya sebut sebagai sains spiritual.

Kita memahami, bahwa manusialah yang paling sempurna sebagai ciptaan-Nya. Oleh sebab itu, segala sistem dan hukum di peruntukkan bagi manusia untuk dapat dimaknai hingga diberdayakan berikutnya menjadi acuan untuk memberdayakannya dengan koridor kehendak bebas yang terbatas.

Pengetahuan akan ilmu paling awal yang dapat dicerna oleh manusia adalah ilmu tentang nama-nama, sifat dari materi, dan mekanisme yang difahami sebagai Hukum Alam. Berkembang pemahaman ilmu tentang bagaimana berbagi wilayah antar kelompok. Hal ini menjadi pengetahuan tentang tata kelola alam yang berikutnya disebut sebagai Hukum Negara. Dan yang terakhir ilmu tentang keberadaan-Nya dan konsep hubungan Dia dengan ciptaan-Nya, hubungan dengan sesama ciptaan dan hubungan dengan diri sendiri. Berkembang menjadi Hukum Agama.

Tiga Hukum diatas berikutnya menjadi acuan dalam menerbitkan peraturan dan berbagai hukum yang berkembang seiring berkembangnya budaya peradaban.
Budaya Peradaban lahir dari Pikiran, Ucapan dan Tindakan Manusia di Bumi dan Alam Semesta Raya inu.


Kajian Logis
Khairuddin Lubis
6 April 2022.

Dalam Buku Bertajuk Membuka Tabir Potensi Diri terbitan Bamboo Spirit Nusantara 2022.
Seri Episode Youtube Teori & Praktek Meditasi oleh Praktisi Meditasi 20 Tahun Khairuddin Lubis.

Dari Paparan Saudara Khairuddin Lubis, Kita semakin menemukan Hubungan antara Potensi SUARA atawa BUNYI Gamelan Sinden Panjak, Sang Dalang dalam Lakon yang dimaenkan Sang Dalang dalam Beragam Jenis Lakon yang bertajuk Wahyu, yang hakekatnya adalah Sabda, dimana Sabda yang hakekatnya adalah SUARA atawa BUNYI, Misalnya Lakon Wahyu Purba Sejati, Wahyu Purba Kayun, Wahyu Mahkota Rama, dll, termasuk juga segala POTENSI KESADARAN SPIRITUAL di dalam SUARA atawa BUNYI dari perangkat gamelan beserta seluruh MANUSIA yang sedang terlibat dalam Pagelaran Wayang Kulit Semalam Sunthuk adaNya

Dari Penjelasan Saudara Khairuddin maka Sang Dalang dengan Sarana Prasarana beserta Perangkat Pedalangannya sudah memiliki Potensi yang sangat besar, dalam SUARA atawa BUNYI nya, untuk melakukan inovasi kreativitas transformasi baik media Dalang Pedalangan Hingga Penggalian Pengertian dari Kesadaran Jiwa Spiritual Sang Dalang dalam keseluruhan Tampilan Performancenya di dalam Pagelaran Wayang Kulit Klasik semalam sunthuknya, sehingga lahirlah Budaya Peradaban yang Saudara Khairuddin Lubis jelaskan beserta dampak tingkat derajat kesadarannya, dari dalam Budaya Teknologi Spiritual Wayang dan Dalang Pedalangan yang sudah mempunyai kemampuan sejak awal mula dilahirkan, diciptakan, diadakan hingga sekarang dan selanjutnya, dalam hal ini khususnya melalui Para SUARA ataqa BUNYI Dalang dengan Perangkat Karawitan Dalang Pedalangan NGESTI WEDHARING BUDAYA Pasuruan sewajarnya, selayaknya dan sepantasnya sudah serta pasti bisa terjadi adaNya
Penulis dan Aplikator : Guntur Bisowarno
BERITA TERBARU