Dari Sawah ke Batik, Padi Sigupai Abdya Naik Kelas Jadi Ikon dan Filosofi Daerah
Sigerindo Aceh Barat Daya – Padi lokal naik kelas. Pemkab Abdya lewat Dinas Pertanian mencatat 5 hektare sawah di Abdya ditanami padi Sigupai musim tanam gadu 2026, Senin 22 Juni 2026.
“Penanaman padi khas unggulan Abdya itu tersebar di beberapa areal. Jika digabung semua ada lebih kurang 5 hektare,” kata Kadis Pertanian Abdya Hendri Yadi.
Laporan Balai Penyuluhan Pertanian sebut lokasi tanam tersebar di Kecamatan Blangpidie Gampong Keudee Paya, Kecamatan Jeumpa Gampong Ladang Neubok, Kecamatan Setia, Tangan-tangan, Manggeng, dan Kecamatan Kuala Batee.
Padi Sigupai punya ciri kuat. Aroma khas pandan harum dan nasinya pulen. Tinggi tanaman 140 sampai 150 cm. Masa panen padi asli cukup lama, 120 hari di sawah sampai 6 bulan di lahan kering.
“Sekarang sudah ada inovasi. Pemkab Abdya lakukan langkah besar lestarikan padi ini,” tambah Hendri.
Pemkab Abdya kembangkan galur baru turunan Sigupai lewat metode mutan. Namanya Sigupai Milenium atau Sigupai Genjah. Umur panen hanya 85 hari, tapi aroma harum asli tetap terjaga. “Harapan kita itu jadi varietas baru suatu saat nanti,” ungkapnya.
Padi Sigupai bukan sekadar pangan. Ia lahirkan ide besar. Motif padi Sigupai resmi jadi batik khas Abdya. Bulir padi yang merunduk jadi filosofi utama desain Tugu Daerah berbentuk padi Sigupai. Lambang persatuan dan kerendahan hati.
“Begitu ikoniknya padi ini, hingga kain batik dan tugu daerah terinspirasi dari Sigupai,” pungkas Hendri. (HD)

