Bupati Egi Saksikan Janji Keras Kapolres Lamsel: Polri Wajib Brutal Melayani, Bukan Dilayani
Sigerindo Lampung Selatan — HUT ke-80 Bhayangkara di Mapolres Lampung Selatan, Rabu 1/7/26, bukan ajang seremonial. Ini alarm keras, era Polri yang lambat, birokratis, dan defensif harus mati. Gantinya, polisi yang presisi, responsif, dan digdaya di lapangan.
Pukul 08.00 WIB, Lapangan Apel Mapolres Lamsel penuh. Bupati Radityo Egi Pratama datang bersama Wabup M. Syaiful Anwar, Forkopimda, TNI-Polri, dan tamu undangan. Barisan tegap, tapi yang ditunggu publik bukan upacara, melainkan gebrakan.
Membacakan amanat Kapolri, Kapolres Lamsel AKBP Toni Kasmiri tak bertele-tele. “Seluruh tugas kepolisian hanya punya satu muara, pelayanan terbaik yang profesional, responsif, dan langsung terasa di kulit masyarakat,” tegasnya. Tidak ada ruang untuk pelayanan setengah hati.
Musuh Polri hari ini bukan lagi sekadar preman jalanan. Kejahatan siber menggerogoti diam-diam. Disinformasi lebih cepat dari peluru. Konflik global bisa meledak jadi gejolak domestik dalam hitungan jam. AKBP Toni menantang, Polri wajib punya taring digital. Perkuat siber, tajamkan prediksi, hajar laporan warga dengan respons kilat. Lambat berarti kalah.
Ia menggarisbawahi fakta pahit, program pemerintah semegah apa pun akan rontok tanpa keamanan. Karena itu, sinergi bukan basa-basi. Polri harus jadi simpul, bukan sekat.
Sorotan paling menohok, reformasi internal. Publik muak dengan oknum. Ekspektasi warga sudah di level langit. Jawabannya tegas, profesionalisme, transparansi, akuntabilitas. Bukan jargon, tapi napas kerja harian. “Budaya kerja harus berubah. Kalau tidak, kepercayaan publik juga tak akan berubah,” sindirnya.
Teknologi jadi pembeda. Digitalisasi pelayanan publik harus brutal, potong jalur berbelit, sikat pungli, buka semua data yang bisa dibuka. “Polri wajib jadi pelindung yang humanis, pengayom yang tidak arogan, pelayan yang tidak minta dilayani,” tandas AKBP Toni.
HUT ke-80 ini adalah garis start baru. Polri Lampung Selatan ditagih janji, lebih modern, lebih transparan, lebih dipercaya. Sebab tanpa rasa aman, pembangunan hanya jadi wacana. Dan tanpa kepercayaan, seragam hanya jadi kain. (*)

