Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting



Ironi Saat Lengkoas Setu Dijadikan Primadona, Petani Rempah Lokal Merana

Sigerindo Kabupaten Bekasi - Lengkoas Setu merupakan tanaman rempah yang telah ramai diperbincangkan sebagai hasil tani unggulan di Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Bahkan lengkoas Setu didorong untuk menjadi salah satu komoditi eksport andalan ( megapolitan.antaranews.com, Kamis, 12 Agustus 2021). Namun sepertinya tujuan budidaya lengkoas dalam peningkatan ekonomi di Kecamatan Setu ini belum berpihak sepenuhnya terhadap nasib para petani lokal

Yang terjadi sekarang, kondisi petani rempah masih tetap saja menderita dengan terus merosotnya harga pasar. Kurangnya perhatian dan penanganan yang serius dari stakeholder dalam menghadapi turunnya harga rempah seperti Lengkoas, kencur, sereh menjadi pertanyaan besar bagi para petani. Pada akhirnya, bukan mendapatkan hasil malah petani yang menanggung rugi dan menjadi korban

Saat dilakukan pemantauan ke petani rempah pada hari senin, 29 November 2021 di Desa Muktijaya, Kecamatan Setu, Sandi ( 30 tahun) pemuda yang aktif menggeluti pertanian lengkoas, sereh dan kencur selama 15 tahun ini, menyatakan sangat kebingungan dengan anjloknya harga pasar dalam kurun waktu 1 tahun ini. Dia menyampaikan, sekarang lengkoas harga hanya Rp 1000,-/kg, sereh Rp 2500,-/kg dan kencur hanya 10.000,-/kg. Bahkan ada kebun lengkoas miliknya yang sudah berumur 2 tahun lebih belum juga dipanen karena takut menanggung resiko kerugian

Sandi yang sehari hari sebagai petani rempah dan jual beli hasil pertanian di lingkungannya mengaku bahwa peran stakeholder sampai sekarang belum pernah ia rasakan. Kegiatan tani yang selama ini ia lakukan hanya bermodal sendiri dan bergerak sendiri tanpa ada campur tangan dan sentuhan dari pihak pemerintah. "Saya bermodal sendiri dari mulai tanam sampai pemanenan, bahkan pembinaan ke petani dan jaringan pemasaran pun saya lakukan sendiri" ungkapnya

Sandi bercerita, "Yang saya heran, pernah ada sekitar 10 mobil datang ke rumah saya. Ada yang katanya orang dari dinas, ada juga dari mahasiswa dan berbagai macam orang, terus ambil foto dan video kegiatan tani rempah saya. Mulai dari pagi sampai sore bahkan spanduk tulisan usaha saya pun disuruh lepas sama mereka", ya saat itu saya nurut saja, kata Sandi. Sampai sekarang Sandi pun tidak tau apa tujuan mereka. Kegiatan kunjungan-kunjungan semacam itu masih sering terjadi, bukannya mereka datang untuk membantu permasalahan para petani setempat, namun sepertinya malah numpang dengan berbagai kepentingan mereka melalui usaha yang sudah puluhan tahun Sandi dan warga sekitar jalani

Sandi menambahkan, "saya sebenarnya tidak keberatan mereka datang, tapi kenapa permasalahan, keluhan dan kebutuhan petani rempah disini sampai sekarang juga belum dapat solusinya. Yang saya rasakan saat ini malah harga rempah-rempah kami terus terjun bebas, kasihan juga para petani rempah yang lain, ungkapnya. Dia menambahkan, "kami hanyalah orang tani kampung lahan garapan, jadi dibohongi pun kami juga tidak tau", tegasnya

Selain itu dia juga mengungkapkan harapan dan memohon keseriusan kepada pihak pemerintah untuk benar-benar membantu baik dalam pemasaran, pengolahan dan peningkatan hasil tani rempah mereka. "Saya mohon kepada pemerintah untuk segera membantu menaikkan harga hasil tani rempah kami, apa dengan cara pengeringan, apa dicincang apa seperti apa, agar hasil panen yang saat ini sedang melimpah harganya tidak hancur".pungkasnya

Diwaktu yang sama, Ketua JPN ( Jaringan Pertanian Nasional ) Kabupaten Bekasi, Narman, S.Sos saat melakukan pemantauan ke petani rempah menyatakan bahwa sangat disayangkan potensi petani rempah di kec Setu, Kab Bekasi yang terkenal sebagai penghasil rempah seperti lengkoas, kencur, sereh dll, tidak dapat maksimal dalam memperoleh hasilnya. Justru mereka terus merugi dengan tidak pernah stabilnya harga pasar. Narman menekankan agar rempah harus segera di dorong dalam peningkatan nilai jualnya namun dari kalangan petani. Dengan cara pemanfaatan teknologi, sistem penjualan, peningkatan kapasitas SDM hingga perlu diadakannya operasi pasar agar petani rempah khususnya di Kecamatan Setu benar-benar menikmati dan merasakan hasil taninya", tutup dia

Dengan melihat fenomena yang terjadi, wacana untuk eksport menjadi keniscayaan jika kenyataan di lapangan baik dalam proses pengolahan dan pemasarannya pun masih sangat konvensional. Tidak stabilnya harga juga masih menjadi PR utama para petani rempah untuk segera dipecahkan. Dituntut keseriusan bagi stakeholder agar dapat saling dukung dan bersinergi dari hulu ke hilir. Bentuk pendampingan yang professional, massif, transparan dan akuntabel kepada para petani rempah juga sangat dibutuhkan agar proses peningkatan SDM petani rempah berjalan seiring perkembangan jaman. Proses nyata yang mudah tanpa harus menempuh jalur-jalur panjang dan berliku itu yang sangat diharapkan oleh para petani (Marzuki)
BERITA TERBARU